IMG-20201017-WA0012.jpg

Ajak Sambut Positif UU Cipta Kerja

Yaksindo kembali melaksanakan kegiatan rutin Kursus Entrepreneurship PKPS untuk yang ketiga kalinya. Kali ini kursus tersebut membahas tentang Undang Undang (UU) Cipta Kerja dengan narasumber Direktur Eksekutif Green Indonesia Foundation (#GiF) yang juga merupakan Supervisor Yaksindo, Asrul Hoesein yang dipandu oleh Ketua PKPS Bondowoso – Jawa Timur, Danny Dwi Damara.

Saat membuka acara, Danny segera membatasi bahwa pembahasan UU Cipta Kerja tersebut bukanlah untuk mencari siapa yang benar atau salah. “Bukan untuk pembenaran atau menyalah-nyalahkan. Pembahasan kita kali ini berkaitan dengan bagaimana kita menyambut UU Cipta Kerja supaya berdampak positif bagi kita pegiat dan pelaku pengelolaan sampah,” tuturnya.

Dalam sambutannya, Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah mengungkapkan bahwa membahas UU Cipta Kerja dengan berbagai sudut pandang sangatlah perlu. Agar tidak salah dalam menyikapi UU baru tersebut. Nara mengaku sudah tamat membaca UU Cipta Kerja yang sekitar 1.000 halaman itu dan justru menemukan banyak hal positif. Terutama berkaitan dengan pengelolaan sampah.

“Saya melihat upaya mewujudkan tata kelola sampah Indonesia akan mulai terurai benang kusutnya. Sejumlah kemudahan berpihak pada pengelola sampah, terutama PKPS,” ujar Nara. Dia mengajak para peserta kursus entrepreneurship PKPS dapat mengambil hal positif dari UU Cipta Kerja sehingga bisa hidup dari hal positif itu.

UU Cipta Kerja Berkah bagi PKPS

Asrul Hoesein sangat positif menyambut UU Cipta Kerja. Bahkan sebagai inisiator dan konseptor PKPS, Asrul menilai UU Cipta kerja sebagai berkah bagi PKPS. Karena dengan undang-undang itu PKPS akan semakin cepat terbentuk di seluruh Indonesia. Yaitu, dengan kemudahan persyaratan untuk mendirikan PKPS.

Jika PKPS berdiri di seluruh Indonesia maka proses circular economy akan segera terwujud. Di mana PKPS telah digagas untuk menjadi poros sirkular ekonomi tersebut.

“Undang Undang No. 25 tahun 1992 tentang Perkoperasian termasuk salah satu UU yang terdampak UU Cipta Kerja. Maka sebagai inisiator PKPS dan para pengelola PKPS, perlu kita memahami dampak daripada UU Cipta Kerja itu,” tegasnya.

Dijelaskan, UU Cipta Kerja adalah UU yang memangkas dan menggabung UU yang saling berhubungan satu sama lainnya, yang dinilai mampu memperlancar usaha dan menghindari Korupsi, Kolusi dan Nepotisme (KKN).

“RUU Cipta Kerja terdiri atas 15 bab dan 174 pasal. Dibahas melalui 64 kali rapat sejak 20 April hingga 3 Oktober 2020. Pembuatan UU Cipta Kerja (UUCK) ini patut diakui sangat rumit, harus menggabungkan sekitar 79 undang-undang  yang terdiri dari 11 kluster dan 1.244 pasal dan pembahasan di DPR-RI bisa dianggap super cepat, kurang setahun sudah di paripurnakan oleh DPR,” jelas pria Asli Bone, Sulawesi Selatan itu.

Menurut Asrul, Amerika Serikat bahkan pernah empat kali menggunakannya sejak pertengahan abad ke-19. Omnibus law pertama adalah omnibus law tentang Compromise of 1850, paket undang-undang yang terdiri dari lima UU terpisah yang disahkan Kongres Amerika Serikat pada September 1850.

Bagi Asrul UU Cipta Kerja merupakan perangkat baru Indonesia  menuju era mandiri. Untuk memotivasi rakyat Indonesia meninggalkan mental priyayi, mental pegawai atau tenaga kerja menuju mental pengusaha. Sehingga Omnibus Law Cipta Kerja diklaim memberikan banyak kemudahan bagi koperasi dan para pelaku usaha kecil, mikro, dan menengah (UMKM) untuk tumbuh subur dan berkembang menjadi tulang punggung perekonomian nasional.

“Dalam hal pengelolaan sampah tentu kita menunggu terobosan Menteri Koperasi dan UMKM dan juga KLHK serta Kementerian dan Lembaga lainnya,” ujarnya. Diungkapkan, Kementerian Koperasi dan UMKM segera menyusun roadmap kebijakan pasca pengesahan UU Cipta Kerja. 

Asrul menyimpulkan, UU Cipta Kerja sesungguhnya telah jadi upaya pemerintah untuk memperbaiki birokrasi yang menghambat berdirinya usaha-usaha kecil maupun yang sedang bertumbuh. “PKPS bisa mengambil peran dengan menciptakan program, baik untuk PKPS sendiri maupun bersama BUMDesa. PKPS seyogianya mendukung UUCK sebagai ikhtiar membangun pondasi masa depan bangsa dari sektor persampahan,” pungkasnya.

Penjelasan Asrul Hoesein dibenarkan oleh akademisi yang juga praktisi persampahan dari Universitas Tarumanegara – Jakarta, Helena J. Kristina. Dia melihat bahwa kemudahan-kemudahan banyak tertuang dalam UU Cipta Kerja. “Saya mencatat ada sembilan poin kemudahan di mana pengelola sampah bisa mendapat manfaat dari itu. Di antara kemudahan perizinan, bantuan pemerintah dan lain-lain. Sehingga dengan begitu pengelolaan sampah bisa makin tumbuh dan berkembang,” terangnya.

Tanggapan beragam juga datang dari para peserta kursus yang lain. Terutama berkaitan dengan bagaimana membangun sinergi dan kolaborasi dengan usaha-usaha lain yang nantinya tumbuh sebagai di dampak adanya UU Cipta Kerja. Terutama peluang kerja sama antara PKPS dengan BUMDesa yang ada di seluruh Indonesia. (kka)

2020-05-26-21.01.48.png

Dorong Penegakan Regulasi Sampah Lewat Ebook

Dua personel Yaksindo terlibat dalam penulisan Ebook Guyub Sampah. Sebuah buku elektronik yang diinisiasi oleh Helena Juliana Kristina sebagai Ketua Tim PKM Universitas Tarumanegara untuk Ebook Guyup Sampah.

Ebook itu diterbitkan oleh Penerbit Fakultas Teknik Untar tahun 2020. Dilengkapi dengan sambutan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar; Rektor Untar, Prof. Agustina Purna Irawan.

Di antara 45 partisipan penulis di ebook tersebut ada Asrul Hoesein dan Nara Ahirullah yang merupakan penggerak Yaksindo. Keduanya tetap kritis dalam tulisannya. Mengungkap belum sistematisnya pengelolaan sampah Indonesia.

Kendati kritis soal sistem pengelolaan sampah yang belum berjalan, Asrul dan Nara tetap optimis mendorong waste management untuk Indonesia.

Nara menulis tentang recycle dan pengelolaan sampah dengan tajuk kekinian: 5 Manfaat Wow Sampah Selain Merusak Lingkungan di bagian I halaman 61.

Sedangkan Asrul menulis tentang kondisi persampahan Indonesia dengan judul: Indonesia Belum Sistematis Menangani Sampah pada bagian II halaman 129.

Dalam kata pengantar ebook, Helena Juliana Kristina berharap informasi dan pengetahuan yang dibagikan dalam buku ini mampu menyumbang sedikit “pencerahan” bagi terbentuknya kesadaran masyarakat agar mau peduli ekologi, yang berarti berbicara mengenai keadilan, perdamaian, menghargai kemajemukan dan perbedaan, dan meningkatkan solidaritas terhadap lingkungan.

Anda dapat membaca Ebook Guyub Sampah melalui link berikut: Download Ebook Guyup Sampah. (abd)