IMG-20200725-WA0004.jpg

Yaksindo Mulai Dampingi Kawasan Wisata Dieng

Pendampingan Yaksindo dalam pengelolaan sampah di Kawasan Wisata Gunung Dieng – Jawa Tengah dimulai. Yaksindo bersama Green Indonesia Foundation (#GiF) dan Timdis akan melakukan pendampingan selama 14 hari ke depan.

Dimulainya pendampingan pengelolaan sampah di Kawasan Wisata Dieng ditandai dengan pembukaan pada Jumat, 24 Juli 2020. Hadir dalam kegiatan tersebut Kepala Cabang BNI Wonosobo, Yusuf Kurniawan dan Publik Relation Supervisor CSR Geo Dipa Energi, Muhammad Aunur Rofiq sebagai pelaksana program.

Para pendukung program dan kegiatan pendampingan pengelolaan sampah Kawasan Wisata Dieng juga hadir. Di antaranya, Ketua Umum Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI) Christine Halim, Sekretaris Jendral ADUPI Wahyudi Sulistya yang sekaligus Pembina Yaksindo, Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah dan Direktur Eksekutif Green Indonesia Foundation (#GiF), Asrul Hoesein.

Dalam sambutannya, Yusuf Kurniawan mengungkapkan bahwa kegiatan pendampingan pengelolaan sampah di Dieng tersebut merupakan kerja kolaborasi dengan PT Geo Dipa Energi (Persero). Di mana kolaborasi itu diharapkan dapat mengatasi persoalan sampah di Kawasan Wisata Dieng.

“BNI Wonosobo dan PT Geo Dipa Energi sedang konsentrasi pada bagaimana mengatasi masalah sampah. Dan bukan hanya sekarang, berbagai upaya kami sudah kami lakukan sampai saat ini,” ujarnya.

Yusuf mengaku sangat senang karena Yaksindo dan #GiF akan mendampingi upaya pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. “Terima kasih atas dukungan bapak-bapak dan ibu-ibu yang hadir saat ini,” ungkapnya.

PR Supervisor CSR PT Geo Dipa Energ, Muhammad Aunur Rofiq menambahkan pihaknya mengharap kegiatan pendampingan tersebut dapat mengatasi persoalan sampah. “Dieng merupakan tempat yang menjadi perhatian Indonesia dan dunia. Mudah-mudahan kita sukses,” harapnya.

Direktur Eksekutif #GiF, Asrul Hoesein selanjutnya menyampaikan perencanaan pengelolaan sampah di Dieng. “GiF dan Yaksindo akan mendampingi pengelolaan sampah dari hulu ke hilir. Dimulai dari pemetaan hingga pemanfaatan. Mengelola sampah dari sisa produk menjadi produk,” terangnya.

Dalam prosesnya, sambungnya, #GiF dan Yaksindo akan mendampingi 12 desa di kawasan Dieng. Tim akan mendampingi selama 14 hari untuk mendapatkan solusi terbaik pengelolaan sampah di Dieng.

Di acara itu, diserahkan juga bantuan infrastruktur pemilahan sampah berupa kantong plastik sampah dari ADUPI. Sebanyak 10.000 kantong plastik sampah anorganik untuk masyarakat di seluruh Kawasan Disata Dieng.

Secara simbolis bantuan diberikan oleh Ketua Umum ADUPI Christine Halim pada perwakilan warga. Usai memberikan bantuan Christine memberikan motivasi pada warga yang akan didampingi #GiF dan Yaksindo.

“Semoga sukses membangun pengelolaan sampah di Dieng ini. Sehingga Dieng bisa bersih dan menjadi wisata yang makin banyak dikunjungi,” ujarnya.

Sampah Akan Dijadikan Briket

Di akhir, Sekjen ADUPI sekaligus Pembina Yaksindo, Wahyudi Sulistya meyakinkan #GIF dan Yaksindo akan mendampingi pengelolaan sampah sampai selesai. “Yaksindo dan GiF akan menjadi solusi sampah di sini. Nanti Yaksindo juga punya solusi untuk sampah yang timbul hari ini akan selesai hari ini juga,” paparnya.

Wahyudi menyampaikan teknologi “Predator Sampah”. Yaitu, teknologi untuk menjadikan sampah untuk briket.

“Briket yang dihasilkan dari teknologi itu nanti akan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dan yang terpenting bisa menyelesaikan masalah sampah,” ungkapnya.

Briket yang dihasilkan nanti dapat menjadi energi untuk substitusi batu bara. Kalori yang dihasilkan sangat memenuhi syarat untuk industri. Dan harga jual bisa menjadi pemasukan masyarakat.

Di akhir, pertemuan dioanjutkan sesi tanya jawab. Sebagian besar bukan bertanya melainkan menyampaikan apresiasi dan dukungannya atas upaya pengelolaan sampah di Kawasan Wisata Dieng. (rev)

IMG-20200709-WA0024.jpg

Yaksindo dan GiF Gandeng PT Yogyakarta

Kolaborasi Lahirkan Solusi Sampah Nasional

Yaksindo dan Green Indonesia Foundation (GiF) secara resmi bekerjasama dengan Institut Teknologi Yogyakarta (ITY). Tiga lembaga tersebut berkolaborasi untuk melahirkan solusi sampah nasional.

ITY merupakan perguruan tinggi pelopor program studi (prodi) teknik lingkungan di Indonesia. Sebagai kampus tertua ITY diharapkan dapat memberi sumbangan besar terutama dalam hal keilmuannya dalam pengelolaan sampah dan kegiatan penelitian lainnya.

Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara ITY dengan GiF dan ITY dengan Yaksindo pada Kamis, 9 Juli 2020 di kampus Pascasarjana ITY.

Hadir secara online dalam penandatanganan MoU tersebut seluruh pejabat di lingkungan akademik ITY. Dari GiF hadir Asrul Hoesein sebagai Direktur Eksekutif. Hadir pula Nara Ahirullah, Ketua Yaksindo.

Dalam sambutannya, Rektor ITY Prof. Chafid Fandeli mengungkapkan kerjasama ITY dengan GiF dan Yaksindo diharapkan dapat menjadi momentum perbaikan pengelolaan sampah Indonesia. “Sampah ini harus mendapat perhatian yang serius,” tegasnya.

Menurut dia, masalah sampah di Indonesia sudah harus menemukan solusi yang benar. “Sampah laut merupakan salah satu yang harus mendapatkan perhatian dan segera bisa diselesaikan. Semoga kerjasama ini bisa menjadi jalan untuk mencapai solusi tersebut,” ungkapnya.

Mengokohkan Regulasi dan Meningkatkan Literasi Pengelolaan Sampah

Sementara Asrul Hoesein menyampaikan apresiasinya pada ITY atas kerjasama tersebut. “Mudah-mudahan kerjasama ini menjadi jawaban dari masalah sampah Indonesia,” ujarnya.

Asrul mengatakan salah satu persoalan sampah di Indonesia yang paling mengemukakan saat ini terkait peraturan pelarangan pada produk-produk tertentu di sejumlah daerah. Menurut dia seharusnya tidak ada kebijakan seperti itu jika pengelolaan sampah berjalan sesuai regulasi.

Senada, Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah mengaku sangat bangga bisa bekerjasama dengan ITY. Dia mengharapkan kolaborasi tersebut bisa meningkatkan kualitas pengelolaan sampah dari sisi akademik dan memperkaya literatur.

“Pengelolaan sampah belum secara maksimal didukung secara ilmiah. Padahal sampah ada di mana-mana dan harus ditangani secara serius,” ujarnya.

Pembina Yaksindo, Wahyudi Sulistya yang ikut mendatangani MoU sebagai pihak mengetahui bersama Ketua Yayasan Lingkungan Hidup, Nico Ngani.

“Kerjasama ini akan memperluas jangkauan Yaksindo dalam upaya mewujudkan tata kelola sampah Indonesia sesuai regulasi. Makan luas jangkauan kita, semoga makin cepat juga terwujud solusi sampah kita,” harap Wahyudi yang merupakan owner PT Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS).

Sebelum ditutup, pembawa acara penandatanganan MoU membacakan rencana tindak lanjut dan lingkup kegiatan kerjasama tersebut. Di antaranya, kegiatan KKN tematik, solusi sampah laut dengan kerjasama lintas perguruan tinggi dan revitalisasi lahan ex-tambang berbasis sampah.

Kerjasama itu juga mengarah pada program melahirkan energi terbarukan berbasis sampah, pengembangan SDM pengelola sampah, mendorong circular economy dengan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) berbasis regulasi dan mendorong pelaksanaan UUPS melalui PKPS sebagai poros circular economy serta program potensial lainnya terkait lingkungannya. (rev)

IMG_20200626_182621_120.jpg

Sukses Laksanakan Kursus Enterpreneurship PKPS

Yaksindo bekerja sama dengan Green Indonesia Foundation (GiF) telah berhasil melaksanalan kursus kewirausahaan bagi para penggerak Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) seluruh Indonesia.

Kursus dipandu oleh Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah dan sebagai mentor diisi oleh Direktur GIF sekaligus inisiator PKPS, Asrul Hoesein.

Dalam penyampaiannya, Asrul banyak sharing ilmu dan pengalamannya terkait pengelolaan sampah dan kewirausahaan. Dia menegaskan bahwa mengelola PKPS tidak boleh hanya memikirkan keuntungan besar belaka.

“Mengelola PKPS jangan hanya berpikir sampah dan keuntungan semata. Kondisi lingkungan juga harus menjadi tanggung jawab. Penting juga mengangkat ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Banyak hal disampaikan Asrul kepada peserta kursus yang hanya terbatas bagi peserta yang sudah membentuk dan mendirikan PKPS. “Yaksindo seperti saya dengar, akan banyak melaksanakan kursus untuk teman-teman PKPS. Semoga itu semua nanti bisa memajukan PKPS di seluruh Indonesia untuk mengejar kemajuan seperti Koperasi NACF di Korea,” harapnya.

Berlangsung selama 2 jam, kursus berlangsung serius laiknya perkuliahan. Di sejak awal acara online itu Nara mengingatkan agar peserta mencatat hal penting yang disampaikan narasumber.

Menurut Nara, kursus selanjutnya tetap akan berkaitan dengan meningkatkan SDM di PKPS. “Yaksindo sangat yakin PKPS bisa menjadi solusi sampah Indonesia dengan jenjang dan jejaringnya yang luas. Maka Yaksindo merasa memiliki kewajiban untuk meningkatkan kualitas SDM-nya,” ungkapnya.

Nara berharap dengan berbagai pengetahuan dan sharing pengalaman dari narasumber, PKPS dapat menjadi koperasi yang kuat. Sehingga persoalan sampah yang menjadi salah satu tujuan utama berdirinya PKPS dapat diselesaikan. (rev)