IMG-20200908-WA0024.jpg

Wujudkan Tata Kelola Sampah Kota Tegal

Yayasan Kelola Sampah Indonesia (Yaksindo) melanjutkan visinya mewujudkan tata kelola sampah Indonesia di Kota Tegal – Jawa Tengah. Hal itu ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Kota Tegal dengan Yaksindo tentang Peningkatan Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Hidup pada Selasa, 8 September 2020.Penandatanganan kesepakatan bersama itu dilaksanakan secara langsung oleh Walikota, Tegal Dedy Yon Supriyono dan Ketua Yaksindo Nara Ahirullah di Command Room Kominfo Kota Tegal. Dihadiri oleh para pejabat di lingkungan Pemkot Tegal serta undangan luar dari luar kota yang hadir secara virtual.

Membuat Sampah Tak Dibuang Setiap Hari

Dalam sambutannya, Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah mengungkapkan yang relevan saat ini adalah pengelolaan sampah di rumah tangga.”Desentralisasi pengelolaan sampah. Menahan sampah di rumah-rumah warga agar tidak buang sampah setiap hari dan cukup waktu untuk penanganan, pengolahan dan pengolahan sampah di titik kumpul,” ujarnya.Nara menyatakan, Indonesia akan melihat bagaimana Undang Undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (UUPS) benar-benar dijalankan di Kota Tegal. Mulai dari pasal 12 tentang kewajiban rumah tangga mengelola sampah dengan infrastruktur pemilahan sampah berupa komposter dan kantong sampah anorganik di setiap rumah.Setelah itu lanjut melaksanakan Pasal 13 tentang kewajiban pengelolaan sampah kawasan dengan adanya mesin briket sampah yang hasilnya akan diserap industri. Lalu menjalankan Pasal 15 tentang tanggung jawab produsen pada sisa produknya dengan melakukan pendataan potensi sampah produk.”Kemudian mewujudkan Pasal 21 tentang insentif dan disinsentif pengelola sampah oleh masyarakat, pengelola kawasan dan produsen produk dengan pembentukan PKPS (Primer Koperasi Pengelola Sampah) sebagai poros circular economy yang selama ini sering didengung-dengungkan namun jalan di tempat,” papar Nara.PKPS, sambungnya, akan mengubah material daur ulang yang awalnya disebut sampah menjadi bisnis yang sustainable karena ketersediaan bahan bakunya yang pasti ada.”Di Kota Tegal ini jugalah kita akan melihat bagaimana masyarakat, pemerintah, pihak produsen dan swasta lainnya secara bergotong-royong membantu pengelolaan sampah secara bertanggungjawab dan proporsional,” pungkasnya.

Seimbangkan Volume Sampah dengan Sistem Pengelolaan

Senada, Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyono mengungkapkan, saat ini sampah adalah tantangan kita bersama untuk menyelesaikannya. Tantangan itu disebabkan oleh makin besarnya populasi penduduk, peningkatan konsumsi masyarakat, semakin sempitnya lahan, meluasnya distribusi produk dan umur produk yang makin instan.Kondisi demikian menyebabkan volume sampah yang dihasilkan dan timbul meningkat hingga jumlah yang tidak mampu dikelola. “Faktor utama tidak terkelolanya sampah yang ada saat ini merupakan akibat dari tidak seimbangnya volume sampah dengan kemampuan pengelolaan sampah,” ujarnya.Di sinilah, sambungnya, Pemkot Tegal memiliki pemahaman yang sama dengan Yaksindo. Maka kesepakatan bersama itu akan dilanjutkan dengan perjanjian kerja sama yang lebih teknis lagi untuk mengajak semua pihak bergotong royong mengelola sampah.Usai memberi sambutan, Walikota Tegal dan Ketua Yaksindo bersama-sama menandatangani dokumen kesepakatan bersama. Kemudian dilanjutkan dengan mendengar pernyataan dari undangan yang hadir secara virtual.

PT KCS Hibahkan Mesin Briket Sampah Skala Kecamatan

Owner PT Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS), Wahyudi Sulistya menyatakan sangat mendukung kerjasama yang akan dilaksanakan antara Pemkot Tegal dengan Yaksindo. Di mana dalam hal ini PT KCS akan menghibahkan mesin predator sampah yang dapat mengubah sampah menjadi bahan bakar briket dengan kalori yang sesuai kebutuhan industri.“Kami sangat mendukung dan mesin briket sampah yang akan kami hibahkan pada Pemkot Tegal merupakan solusi yang tepat untuk permasalahan sampah. Briket sampah hasil produksi nanti akan bisa membiayai pengelolaan sampah secara mandiri sehingga pemkot bisa hemat dalam operasional penanganan sampah,” ujar Wahyudi yang juga sekaligus Pembina Yaksindo sekaligus Sekretaris Jendral Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI).Mesin briket tersebut memiliki kapasitas yang bisa menyelesaikan sampah per hari di tingkat kecamatan. Rencananya, hibah mesin briket tersebut akan ditempatkan di Kecamatan Tegal Timur.

ADUPI Ajak Masyarakat Cerdas Kelola Sampah

Sementara itu, Ketua Umum ADUPI, Christine Halim yang juga hadir secara virtual mengharapkan Kota Tegal bisa benar-benar menjadi percontohan yang baik dan benar dalam pengelolaan sampah.“Pengelolaan sampah di dalamnya juga ada daur ulang. Saya yakin dengan kerjasama yang baik, pengelolaan sampah dari hulu ke hilir akan menguntungkan masyarakat. Di mana masyarakat nanti juga bisa memperoleh hasil yang baik dari sampah yang bisa didaurulang,” tuturnya.Christine mengajak agar masyarakat cerdas dalam mengelola sampah. Sehingga selain menghasilkan lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman, pengelolaan sampah juga bisa menyejahterakan masyarakat.

Program Prioritas PT Trinseo Materials Indonesia

Selanjutnya, Presiden Direktur PT Trinseo Materials Indonesia Director of Sustainability Responsible Care® Indonesia (RCI) menyatakan, mendukung kerjasama Pemkot Tegal dengan Yaksindo karena termasuk dalam prioritasnya.PT Trinseo Materials Indonesia memprioritaskan keberlanjutan pengelolaan sampah karena baru saja mengumumkan Sustainability Goals selama 10 tahun ke depan. “Hingga tahun 2030 topik prioritas kami mulai dari perubahan iklim, produk berkelanjutan, pengerjaan yang bertanggung jawab, hingga tenaga kerja yang berkelanjutan,” terangnya.

GIF – Yaksindo Akan Dampingi Sampai Tuntas

Terakhir, Direktur Eksekutif Green Indonesia Foundation (GIF) sekaligus Supervisor Yaksindo menyatakan apa yang akan dilakukan Yaksindo di Kota Tegal tidak akan sama dengan program-program lain.“Kami tidak akan hanya memberikan alat-alat atau mesin-mesin saja lalu pergi,” tegasnya.Yaksindo, tambahnya, akanmendampingi pemerintah, masyarakat dan industri yang terlibat dalam pengelolaan sampah di Kota Tegal sampai semuanya siap tinggal landas. “Tidak akan kami tinggalkan. Karena yang akan kami bangun dalam pengelolaan sampah adalah sistem. Akan percuma semuanya kalau sistem tidak ada,” tegasnya.Dijelaskan, selanjutnya Yaksindo akan mengajak berkomunikasi semua pihak yang terkait sampah. Baik itu pemerintah, masyarakat, industri, komunitas dan media. Setelah itu melakukan pendataan potensi sampah dan membentuk kelembagaan pengelola sampah.“Lalu ada edukasi, sosialisasi, pendampingan dan evaluasi. Kami sudah menyiapkan rencana jangka pendek, menengah dan panjangnya. Akan tercapai tujuan kita bersama jika kita semua kompak dalam kolaborasi dan gotong royong,” pungkasnya. (kka)

IMG-20200709-WA0024.jpg

Yaksindo dan GiF Gandeng PT Yogyakarta

Kolaborasi Lahirkan Solusi Sampah Nasional

Yaksindo dan Green Indonesia Foundation (GiF) secara resmi bekerjasama dengan Institut Teknologi Yogyakarta (ITY). Tiga lembaga tersebut berkolaborasi untuk melahirkan solusi sampah nasional.

ITY merupakan perguruan tinggi pelopor program studi (prodi) teknik lingkungan di Indonesia. Sebagai kampus tertua ITY diharapkan dapat memberi sumbangan besar terutama dalam hal keilmuannya dalam pengelolaan sampah dan kegiatan penelitian lainnya.

Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara ITY dengan GiF dan ITY dengan Yaksindo pada Kamis, 9 Juli 2020 di kampus Pascasarjana ITY.

Hadir secara online dalam penandatanganan MoU tersebut seluruh pejabat di lingkungan akademik ITY. Dari GiF hadir Asrul Hoesein sebagai Direktur Eksekutif. Hadir pula Nara Ahirullah, Ketua Yaksindo.

Dalam sambutannya, Rektor ITY Prof. Chafid Fandeli mengungkapkan kerjasama ITY dengan GiF dan Yaksindo diharapkan dapat menjadi momentum perbaikan pengelolaan sampah Indonesia. “Sampah ini harus mendapat perhatian yang serius,” tegasnya.

Menurut dia, masalah sampah di Indonesia sudah harus menemukan solusi yang benar. “Sampah laut merupakan salah satu yang harus mendapatkan perhatian dan segera bisa diselesaikan. Semoga kerjasama ini bisa menjadi jalan untuk mencapai solusi tersebut,” ungkapnya.

Mengokohkan Regulasi dan Meningkatkan Literasi Pengelolaan Sampah

Sementara Asrul Hoesein menyampaikan apresiasinya pada ITY atas kerjasama tersebut. “Mudah-mudahan kerjasama ini menjadi jawaban dari masalah sampah Indonesia,” ujarnya.

Asrul mengatakan salah satu persoalan sampah di Indonesia yang paling mengemukakan saat ini terkait peraturan pelarangan pada produk-produk tertentu di sejumlah daerah. Menurut dia seharusnya tidak ada kebijakan seperti itu jika pengelolaan sampah berjalan sesuai regulasi.

Senada, Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah mengaku sangat bangga bisa bekerjasama dengan ITY. Dia mengharapkan kolaborasi tersebut bisa meningkatkan kualitas pengelolaan sampah dari sisi akademik dan memperkaya literatur.

“Pengelolaan sampah belum secara maksimal didukung secara ilmiah. Padahal sampah ada di mana-mana dan harus ditangani secara serius,” ujarnya.

Pembina Yaksindo, Wahyudi Sulistya yang ikut mendatangani MoU sebagai pihak mengetahui bersama Ketua Yayasan Lingkungan Hidup, Nico Ngani.

“Kerjasama ini akan memperluas jangkauan Yaksindo dalam upaya mewujudkan tata kelola sampah Indonesia sesuai regulasi. Makan luas jangkauan kita, semoga makin cepat juga terwujud solusi sampah kita,” harap Wahyudi yang merupakan owner PT Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS).

Sebelum ditutup, pembawa acara penandatanganan MoU membacakan rencana tindak lanjut dan lingkup kegiatan kerjasama tersebut. Di antaranya, kegiatan KKN tematik, solusi sampah laut dengan kerjasama lintas perguruan tinggi dan revitalisasi lahan ex-tambang berbasis sampah.

Kerjasama itu juga mengarah pada program melahirkan energi terbarukan berbasis sampah, pengembangan SDM pengelola sampah, mendorong circular economy dengan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) berbasis regulasi dan mendorong pelaksanaan UUPS melalui PKPS sebagai poros circular economy serta program potensial lainnya terkait lingkungannya. (rev)

IMG_20200626_182621_120.jpg

Sukses Laksanakan Kursus Enterpreneurship PKPS

Yaksindo bekerja sama dengan Green Indonesia Foundation (GiF) telah berhasil melaksanalan kursus kewirausahaan bagi para penggerak Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) seluruh Indonesia.

Kursus dipandu oleh Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah dan sebagai mentor diisi oleh Direktur GIF sekaligus inisiator PKPS, Asrul Hoesein.

Dalam penyampaiannya, Asrul banyak sharing ilmu dan pengalamannya terkait pengelolaan sampah dan kewirausahaan. Dia menegaskan bahwa mengelola PKPS tidak boleh hanya memikirkan keuntungan besar belaka.

“Mengelola PKPS jangan hanya berpikir sampah dan keuntungan semata. Kondisi lingkungan juga harus menjadi tanggung jawab. Penting juga mengangkat ekonomi masyarakat,” ujarnya.

Banyak hal disampaikan Asrul kepada peserta kursus yang hanya terbatas bagi peserta yang sudah membentuk dan mendirikan PKPS. “Yaksindo seperti saya dengar, akan banyak melaksanakan kursus untuk teman-teman PKPS. Semoga itu semua nanti bisa memajukan PKPS di seluruh Indonesia untuk mengejar kemajuan seperti Koperasi NACF di Korea,” harapnya.

Berlangsung selama 2 jam, kursus berlangsung serius laiknya perkuliahan. Di sejak awal acara online itu Nara mengingatkan agar peserta mencatat hal penting yang disampaikan narasumber.

Menurut Nara, kursus selanjutnya tetap akan berkaitan dengan meningkatkan SDM di PKPS. “Yaksindo sangat yakin PKPS bisa menjadi solusi sampah Indonesia dengan jenjang dan jejaringnya yang luas. Maka Yaksindo merasa memiliki kewajiban untuk meningkatkan kualitas SDM-nya,” ungkapnya.

Nara berharap dengan berbagai pengetahuan dan sharing pengalaman dari narasumber, PKPS dapat menjadi koperasi yang kuat. Sehingga persoalan sampah yang menjadi salah satu tujuan utama berdirinya PKPS dapat diselesaikan. (rev)

IMG-20200619-WA0009.jpg

Yaksindo Dukung APSI Bentuk PKPS Bali

Upaya mendorong pengelolaan sampah yang sesuai regulasi dengan sistem yang berjejaring terus dilaksanakan oleh Yaksindo. Dalam waktu dekat, Yaksindo akan berkolaborasi dengan Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) di Provinsi Bali.

Kolaborasi yang akan dilakukan Yaksindo dengan APSI tersebut muncul atas inisiatif bersama. Hal itu disampaikan oleh Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah.

“Insya Allah sesegera mungkin Yaksindo akan berkolaborasi dengan APSI di Provinsi Bali. Kabar baik ini datang dari Pak Asrul Hoesein yang sekarang sedang berkunjung ke Bali memenuhi undangan dari teman-teman APSI,” ujar Nara.

Nara mengungkapkan, bentuk kolaborasi antara Yaksindo dengan APSI adalah dengan bersama-sama mendorong pembentukan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) di Provinsi Bali.

Pernyataan Nara dibenarkan oleh Asrul Hoesein, Pengawas Yaksindo yang tengah berada di Bali. Menurut Asrul, APSI sudah sepakat untuk berkolaborasi dengan Yaksindo untuk bergotong royong membangun solusi pengelolaan sampah Indonesia.

Kolaborasi itu akan dimulai dari Bali. “Saya sudah bertemu dengan Ketua APSI dan bicara panjang soal pengelolaan sampah Indonesia. Harus ada kolaborasi yang benar dan proporsional,” terang Asrul.

(Foto dari kiri: Asrul Hoesein, Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri dan jajaran APSI pada acara Program Karangasem Bersih Sampah, 19 Juni 2020)

Dijelaskan, Yaksindo dan APSI akan mendorong pembentukan PKPS di Bali sebagai sistem pengelolaan sampah yang berjenjang dan berjejaring. Kelak, PKPS-PKPS di Bali akan terkoneksi dengan PKPS-PKPS di provinsi lain se Indonesia.

“Ada sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Bali, mudah-mudahan semuanya bisa mendirikan PKPS. Namun, yang paling potensial segera berdiri adalah PKPS Klungkung dan PKPS Karangasem,” terang pria berkumis itu.

Asrul mengungkapkan, selama dua hari di Bali dirinya sudah berkunjung ke Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Karangasem. Dia meyakini bahwa persoalan sampah di dua kabupaten itu dapat diselesaikan dengan mendirikan PKPS.

“Dengan PKPS semua pihak akan punya tugas dan tanggung jawab yang proporsional. Karena PKPS ini sejak awal memang multistakholder,” tegasnya.

Pembina Yaksindo, Wahyudi Sulistya menyambut baik kolaborasi Yaksindo dengan APSI. Menurut dia, kolaborasi Yaksind dan APSI itu akan mempercepat terciptanya solusi pengelolaan sampah Indonesia yang saat ini sedang diusahakan oleh Yaksindo.

“Solusi pengelolaan sampah Indonesia memang tidak bisa dilakukan parsial, sendiri-sendiri dan tidak tersistem. Syukur lah kalau APSI akan berkolaborasi dengan kami. Progres solusi sampah kita akan semakin cepat terwujud,” ungkap Wahyudi.

Menindaklanjuti kolaborasi tersebut, Owner PT. Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS) itu menyatakan akan menggelar pertemuan antara Yaksindo dengan APSI pada Senin, 29 Juni 2020 di Kabupaten Pasuruan – Jawa Timur.

“Sekaligus nanti bersama-sama melihat perkembangan pendirian PKPS Kabupaten Pasuruan,” ujarnya mengakhiri. (rev)

2020-06-15-18.38.25.jpg

Di DIY, Srikandi PKPS Bantul Siap Bereskan Sampah

Setelah mendorong pembentukan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) Kota Magelang, Yaksindo juga mendorong terbentuknya PKPS Kabupaten Bantul – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah berharap PKPS Kabupaten Bantul bisa menjadi pemicu terbentuknya PKPS di kabupaten dan kota se DIY lainnya. “Setelah Kabupaten Bantul, insya Allah PKPS Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Kulonprogo juga akan segera terbentuk,” ujarnya.

Menurut Nara, terbentuknya PKPS Kabupaten Bantul merupakan momentum yang tepat untuk DIY secara keseluruhan meningkatkatkan kualitas pengelolaan sampah sesuai regulasi. “Yaksindo akan terus berbicara regulasi dan membentuk PKPS untuk melaksanakan regulasi itu,” terang Nara.

PKPS Bantul akan digerakkan oleh pegiat lingkungan, pengelola sampah, akademisi dan masyarakat biasa. Semuanya telah hadir dalam rapat pendirian dan menyepakati wanita asli Bantul sebagai ketua, Marfuatun.

“Sementara ini sudah ada dua srikandi jadi pemimpin PKPS. Yaitu, PKPS Bantul dan PKPS Sijunjung – Provinsi Sumatera Barat. Perempuan-perempuan hebat ini siap atasi masalah sampah di daerahnya sesuai regulasi,” ungkap pria berkacamata itu.

Ke depan, masih banyak PKPS yang akan terbentuk yang di antaranya akan diketuai oleh wanita. “PKPS terbuka bagi siapa saja untuk jadi pengurusnya. Laki-laki atau perempuan, yang penting dalam kepengurusan PKPS tidak ada hubungan keluarga atau darah, vertikal maupun horisontal,” tegasnya.

Direktur Green Indonesia Foundation (GiF), Asrul Hoesein yang merupakan inisiator PKPS, mengungkapkan ikut berbahagia atas terbentuknya PKPS Bantul.

“Teman-teman sudah mulai menyadari betapa pentingnya lembaga pengelolaan sampah berbentuk koperasi yang berjejaring dan multistakeholder. Saya sangat apresiasi teman-teman yang sudah membentuk PKPS. Terus semangat semua ya,” tandasnya yang juga selaku pengawas di Yaksindo.

Senada, Pembina Yaksindo, Wahyudi Sulistya menyatakan dukungannya pada PKPS – PKPS yang sudah dan akan terbentuk. “Semakin banyak PKPS terbentuk di seluruh Indonesia, maka akan semakin baik pengelolaan sampah kita,” terangnya.

Wahyudi meminta agar semua PKPS yang terbentuk dan yang akan terbentuk terus berkordinasi satu dengan yang lain. Dia meyakini pola jejaring antar-PKPS lah yang bisa menjadi solusi masalah sampah Indonesia. (rev)

20200613_151635.jpg

Yaksindo Dorong Pengelolaan Sampah di Magelang – Jawa Tengah

Yaksindo mulai bergerak di Jawa Tengah. Mendorong perbaikan kualitas pengelolaan sampah di Kabupaten Magelang dan Kota Magelang.

Berkolaborasi dengan CV. Timdis, Yaksindo datang ke Rumah Sakit Umum (RSU) Lestari Raharja di Kota Magelang – Jawa Tengah. Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah mendorong RSU tersebut membentuk pengelola sampah unit agar maksimal dalam pengelolaan sampah domestik maupun sampah medisnya.

“Rumah sakit tidak boleh memperjualbelikan sampah. Selama ini pihak ketiga yang masuk rumah sakit canggung karena hal itu,” terang Nara.

Menurut Nara, terutama sampah yang berkaitan dengan medis, semuanya sudah ada biaya untuk pengelolaan sampahnya. Selain sudah dipungut produsen dari pembeli produk, pasien yang menggunakan produk itu juga telah dipungut biaya pengelolaan sampah melalui harga produk itu.

“Karena itulah menejemen rumah sakit harus memperlakukan semua sampah medis, baik B3 maupun non-B3 sebagai sampah. Tidak diperkenankan untuk memperjualbelikannya,” terangnya.

Maka, sambungnya, selama ini pihak ketiga yang membeli sampah itu sangat hati-hati dalam membuat kontrak kerjasama pengelolaan sampah yang sesungguhnya berintikan jual-beli sampah. Antara pihak ketiga dan pihak rumah sakit pasti menggunakan kata “insentif atau kompensasi” alih-alih pembelian sampah medis non-B3.

“Maka setiap RS harus membentuk pengelola sampah unit kawasan rumah sakit. Bisa berbentuk bank sampah atau lainnya,” tegasnya di depan menejemen RSU Lestari Raharja.

Dijelaskan, barang-barang yang bagi rumah sakit adalah sampah, akan berbeda statusnya bagi bank sampah atau pengelola sampah unit kawasan RS. “Bagi bank sampah, sampah rumah sakit itu adalah material daur ulang. Maka bisa dikelola bank sampah secara bisnis murni,” jelas Nara.

Dia juga menjelaskan teknis yang aman dan sesuai regulasi dalam pengelolaan sampah kawasan. Termasuk soal tanggung jawab produsen berbagai produk yang dipakai rumah sakit. Terutama soal tanggung jawab sisa produknya.

Berlanjut, Ketua Yaksindo dan Direktur Green Indonesia Foundation (GiF) Asrul Hoesein yang juga pengawas Yaksindo melaksanakan pengarahan pembentukan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) Kota Magelang dan Kabupaten Magelang. (rev)

Sampah-Plastik-Di-Laut-750x422.jpeg

Yaksindo: Selamatkan Laut dengan Pengelolaan Sampah Kawasan

Peringatan Hari Laut Sedunia jatuh pada hari ini, 8 Juni 2020. Kita bisa lihat di sejumlah media sosial dan lainnya orang-orang menampilkan gambar tentang hari laut dengan satu kekhawatiran.

Yaitu kekhawatiran laut akan makin penuh dengan sampah. Satu kekhawatiran yang sangat masuk akal. Sebab, memang ditemukan banyak sampah di laut seluruh dunia dan Indonesia. Baik di pesisir, permukaan laut, melayang di dalam air maupun di dasar laut.

Ketua Yayasan Kelola Sampah Indonesia (Yaksindo), Nara Ahirullah mengungkapkan, sedikitnya ada 3 proses sampah akhirnya sampai di laut. “Sampah di laut bisa berasal dari sampah yang dibuang sembarangan di sungai, lalu mengalir ke laut,” ujarnya.

Selanjutnya, sambungnya, sampah laut bisa berasal dari darat yang beterbangan atau terbawa banjir hingga mencapai laut. Terakhir, sampah yang memang langsung dibuang ke laut oleh orang-orang dekat laut atau dari kapal-kapal.

Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) melaporkan hasil penelitiannya di 18 kota utama Indonesia, ada 270.000 – 590.000 ton sampah masuk laut Indonesia selama 2018. Itu bisa jadi patokan potensi sampah masuk laut setiap tahun.

Nara mengimbau agar siapa saja yang khawatir soal kondisi laut harus punya kesadaran pengelolaan sampah. “Selain kurangnya kesadaran membuang sampah, faktor tidak adanya pengelolaan sampah adalah penyebab besarnya sampah masuk laut,” terangnya.

Hentikan Omong Kosong Kepedulian pada Laut

Nara mengaku khawatir, orang-orang punya kepedulian pada kondisi sampah laut tanpa tindakan nyata. “Jangan-jangan orang peduli sampah laut tapi masih buang sampah sembarangan. Peduli kebersihan laut tapi tidak berusaha mengelola sampah. Itu namanya kepedulian semu,” ungkapnya.

Ditegaskan, kepedulian terhadap kondisi sampah di laut harus diimbangi dengan tindakan. Harus dilanjutan dengan upaya menciptakan pengelolaan sampah secara personal hingga komunal.

“Caranya dengan pengelolaan sampah kawasan. Baik kawasan di pesisir maupun kawasan yang jauh dari laut. Pengelolaan sampah di kawasan pelabuhan dan di atas kapal juga harus ada dan tegas,” jelas pria berkacamata itu.

Menurut Nara, Yaksindo dalam waktu dekat juga akan gencar melaksanakan edukasi pengelolaan sampah. Sampah laut juga menjadi perhatian Yaksindo untuk dapat dibenahi.

Nara meyakini bahwa tata kelola sampah Indonesia harus diwujudkan. “Karena hanya dengan itulah sampah Indonesia bisa dikendalikan. Baik di gunung, darat maupun di laut. Hanya dengan pengelolaan sampah yang benar semua pihak dapat bertanggungjawab pada sampah secara proporsional,” tegasnya.

Selama ini, tata kelola sampah Indonesia belum terwujud. Sehingga, harus didorong secara massif untuk menyelamatkan lingkungan Indonesia dari sampah.

“Jangan mengaku peduli kalau tidak berupaya mendorong dan membuat sistem pengelolaan sampah. Jangan omong kosong,” tandasnya. (rev)

Source photo: beritapolitikhijau.com

2020-05-26-21.01.48.png

Dorong Penegakan Regulasi Sampah Lewat Ebook

Dua personel Yaksindo terlibat dalam penulisan Ebook Guyub Sampah. Sebuah buku elektronik yang diinisiasi oleh Helena Juliana Kristina sebagai Ketua Tim PKM Universitas Tarumanegara untuk Ebook Guyup Sampah.

Ebook itu diterbitkan oleh Penerbit Fakultas Teknik Untar tahun 2020. Dilengkapi dengan sambutan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar; Rektor Untar, Prof. Agustina Purna Irawan.

Di antara 45 partisipan penulis di ebook tersebut ada Asrul Hoesein dan Nara Ahirullah yang merupakan penggerak Yaksindo. Keduanya tetap kritis dalam tulisannya. Mengungkap belum sistematisnya pengelolaan sampah Indonesia.

Kendati kritis soal sistem pengelolaan sampah yang belum berjalan, Asrul dan Nara tetap optimis mendorong waste management untuk Indonesia.

Nara menulis tentang recycle dan pengelolaan sampah dengan tajuk kekinian: 5 Manfaat Wow Sampah Selain Merusak Lingkungan di bagian I halaman 61.

Sedangkan Asrul menulis tentang kondisi persampahan Indonesia dengan judul: Indonesia Belum Sistematis Menangani Sampah pada bagian II halaman 129.

Dalam kata pengantar ebook, Helena Juliana Kristina berharap informasi dan pengetahuan yang dibagikan dalam buku ini mampu menyumbang sedikit “pencerahan” bagi terbentuknya kesadaran masyarakat agar mau peduli ekologi, yang berarti berbicara mengenai keadilan, perdamaian, menghargai kemajemukan dan perbedaan, dan meningkatkan solidaritas terhadap lingkungan.

Anda dapat membaca Ebook Guyub Sampah melalui link berikut: Download Ebook Guyup Sampah. (abd)