IMG-20200908-WA0024.jpg

Wujudkan Tata Kelola Sampah Kota Tegal

Yayasan Kelola Sampah Indonesia (Yaksindo) melanjutkan visinya mewujudkan tata kelola sampah Indonesia di Kota Tegal – Jawa Tengah. Hal itu ditandai dengan penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Pemerintah Kota Tegal dengan Yaksindo tentang Peningkatan Pengelolaan Sampah dan Lingkungan Hidup pada Selasa, 8 September 2020.Penandatanganan kesepakatan bersama itu dilaksanakan secara langsung oleh Walikota, Tegal Dedy Yon Supriyono dan Ketua Yaksindo Nara Ahirullah di Command Room Kominfo Kota Tegal. Dihadiri oleh para pejabat di lingkungan Pemkot Tegal serta undangan luar dari luar kota yang hadir secara virtual.

Membuat Sampah Tak Dibuang Setiap Hari

Dalam sambutannya, Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah mengungkapkan yang relevan saat ini adalah pengelolaan sampah di rumah tangga.”Desentralisasi pengelolaan sampah. Menahan sampah di rumah-rumah warga agar tidak buang sampah setiap hari dan cukup waktu untuk penanganan, pengolahan dan pengolahan sampah di titik kumpul,” ujarnya.Nara menyatakan, Indonesia akan melihat bagaimana Undang Undang No.18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah (UUPS) benar-benar dijalankan di Kota Tegal. Mulai dari pasal 12 tentang kewajiban rumah tangga mengelola sampah dengan infrastruktur pemilahan sampah berupa komposter dan kantong sampah anorganik di setiap rumah.Setelah itu lanjut melaksanakan Pasal 13 tentang kewajiban pengelolaan sampah kawasan dengan adanya mesin briket sampah yang hasilnya akan diserap industri. Lalu menjalankan Pasal 15 tentang tanggung jawab produsen pada sisa produknya dengan melakukan pendataan potensi sampah produk.”Kemudian mewujudkan Pasal 21 tentang insentif dan disinsentif pengelola sampah oleh masyarakat, pengelola kawasan dan produsen produk dengan pembentukan PKPS (Primer Koperasi Pengelola Sampah) sebagai poros circular economy yang selama ini sering didengung-dengungkan namun jalan di tempat,” papar Nara.PKPS, sambungnya, akan mengubah material daur ulang yang awalnya disebut sampah menjadi bisnis yang sustainable karena ketersediaan bahan bakunya yang pasti ada.”Di Kota Tegal ini jugalah kita akan melihat bagaimana masyarakat, pemerintah, pihak produsen dan swasta lainnya secara bergotong-royong membantu pengelolaan sampah secara bertanggungjawab dan proporsional,” pungkasnya.

Seimbangkan Volume Sampah dengan Sistem Pengelolaan

Senada, Walikota Tegal, Dedy Yon Supriyono mengungkapkan, saat ini sampah adalah tantangan kita bersama untuk menyelesaikannya. Tantangan itu disebabkan oleh makin besarnya populasi penduduk, peningkatan konsumsi masyarakat, semakin sempitnya lahan, meluasnya distribusi produk dan umur produk yang makin instan.Kondisi demikian menyebabkan volume sampah yang dihasilkan dan timbul meningkat hingga jumlah yang tidak mampu dikelola. “Faktor utama tidak terkelolanya sampah yang ada saat ini merupakan akibat dari tidak seimbangnya volume sampah dengan kemampuan pengelolaan sampah,” ujarnya.Di sinilah, sambungnya, Pemkot Tegal memiliki pemahaman yang sama dengan Yaksindo. Maka kesepakatan bersama itu akan dilanjutkan dengan perjanjian kerja sama yang lebih teknis lagi untuk mengajak semua pihak bergotong royong mengelola sampah.Usai memberi sambutan, Walikota Tegal dan Ketua Yaksindo bersama-sama menandatangani dokumen kesepakatan bersama. Kemudian dilanjutkan dengan mendengar pernyataan dari undangan yang hadir secara virtual.

PT KCS Hibahkan Mesin Briket Sampah Skala Kecamatan

Owner PT Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS), Wahyudi Sulistya menyatakan sangat mendukung kerjasama yang akan dilaksanakan antara Pemkot Tegal dengan Yaksindo. Di mana dalam hal ini PT KCS akan menghibahkan mesin predator sampah yang dapat mengubah sampah menjadi bahan bakar briket dengan kalori yang sesuai kebutuhan industri.“Kami sangat mendukung dan mesin briket sampah yang akan kami hibahkan pada Pemkot Tegal merupakan solusi yang tepat untuk permasalahan sampah. Briket sampah hasil produksi nanti akan bisa membiayai pengelolaan sampah secara mandiri sehingga pemkot bisa hemat dalam operasional penanganan sampah,” ujar Wahyudi yang juga sekaligus Pembina Yaksindo sekaligus Sekretaris Jendral Asosiasi Daur Ulang Plastik Indonesia (ADUPI).Mesin briket tersebut memiliki kapasitas yang bisa menyelesaikan sampah per hari di tingkat kecamatan. Rencananya, hibah mesin briket tersebut akan ditempatkan di Kecamatan Tegal Timur.

ADUPI Ajak Masyarakat Cerdas Kelola Sampah

Sementara itu, Ketua Umum ADUPI, Christine Halim yang juga hadir secara virtual mengharapkan Kota Tegal bisa benar-benar menjadi percontohan yang baik dan benar dalam pengelolaan sampah.“Pengelolaan sampah di dalamnya juga ada daur ulang. Saya yakin dengan kerjasama yang baik, pengelolaan sampah dari hulu ke hilir akan menguntungkan masyarakat. Di mana masyarakat nanti juga bisa memperoleh hasil yang baik dari sampah yang bisa didaurulang,” tuturnya.Christine mengajak agar masyarakat cerdas dalam mengelola sampah. Sehingga selain menghasilkan lingkungan yang bersih, sehat dan nyaman, pengelolaan sampah juga bisa menyejahterakan masyarakat.

Program Prioritas PT Trinseo Materials Indonesia

Selanjutnya, Presiden Direktur PT Trinseo Materials Indonesia Director of Sustainability Responsible Care® Indonesia (RCI) menyatakan, mendukung kerjasama Pemkot Tegal dengan Yaksindo karena termasuk dalam prioritasnya.PT Trinseo Materials Indonesia memprioritaskan keberlanjutan pengelolaan sampah karena baru saja mengumumkan Sustainability Goals selama 10 tahun ke depan. “Hingga tahun 2030 topik prioritas kami mulai dari perubahan iklim, produk berkelanjutan, pengerjaan yang bertanggung jawab, hingga tenaga kerja yang berkelanjutan,” terangnya.

GIF – Yaksindo Akan Dampingi Sampai Tuntas

Terakhir, Direktur Eksekutif Green Indonesia Foundation (GIF) sekaligus Supervisor Yaksindo menyatakan apa yang akan dilakukan Yaksindo di Kota Tegal tidak akan sama dengan program-program lain.“Kami tidak akan hanya memberikan alat-alat atau mesin-mesin saja lalu pergi,” tegasnya.Yaksindo, tambahnya, akanmendampingi pemerintah, masyarakat dan industri yang terlibat dalam pengelolaan sampah di Kota Tegal sampai semuanya siap tinggal landas. “Tidak akan kami tinggalkan. Karena yang akan kami bangun dalam pengelolaan sampah adalah sistem. Akan percuma semuanya kalau sistem tidak ada,” tegasnya.Dijelaskan, selanjutnya Yaksindo akan mengajak berkomunikasi semua pihak yang terkait sampah. Baik itu pemerintah, masyarakat, industri, komunitas dan media. Setelah itu melakukan pendataan potensi sampah dan membentuk kelembagaan pengelola sampah.“Lalu ada edukasi, sosialisasi, pendampingan dan evaluasi. Kami sudah menyiapkan rencana jangka pendek, menengah dan panjangnya. Akan tercapai tujuan kita bersama jika kita semua kompak dalam kolaborasi dan gotong royong,” pungkasnya. (kka)

IMG-20200709-WA0024.jpg

Yaksindo dan GiF Gandeng PT Yogyakarta

Kolaborasi Lahirkan Solusi Sampah Nasional

Yaksindo dan Green Indonesia Foundation (GiF) secara resmi bekerjasama dengan Institut Teknologi Yogyakarta (ITY). Tiga lembaga tersebut berkolaborasi untuk melahirkan solusi sampah nasional.

ITY merupakan perguruan tinggi pelopor program studi (prodi) teknik lingkungan di Indonesia. Sebagai kampus tertua ITY diharapkan dapat memberi sumbangan besar terutama dalam hal keilmuannya dalam pengelolaan sampah dan kegiatan penelitian lainnya.

Kerjasama tersebut ditandai dengan penandatanganan memorandum of understanding (MoU) antara ITY dengan GiF dan ITY dengan Yaksindo pada Kamis, 9 Juli 2020 di kampus Pascasarjana ITY.

Hadir secara online dalam penandatanganan MoU tersebut seluruh pejabat di lingkungan akademik ITY. Dari GiF hadir Asrul Hoesein sebagai Direktur Eksekutif. Hadir pula Nara Ahirullah, Ketua Yaksindo.

Dalam sambutannya, Rektor ITY Prof. Chafid Fandeli mengungkapkan kerjasama ITY dengan GiF dan Yaksindo diharapkan dapat menjadi momentum perbaikan pengelolaan sampah Indonesia. “Sampah ini harus mendapat perhatian yang serius,” tegasnya.

Menurut dia, masalah sampah di Indonesia sudah harus menemukan solusi yang benar. “Sampah laut merupakan salah satu yang harus mendapatkan perhatian dan segera bisa diselesaikan. Semoga kerjasama ini bisa menjadi jalan untuk mencapai solusi tersebut,” ungkapnya.

Mengokohkan Regulasi dan Meningkatkan Literasi Pengelolaan Sampah

Sementara Asrul Hoesein menyampaikan apresiasinya pada ITY atas kerjasama tersebut. “Mudah-mudahan kerjasama ini menjadi jawaban dari masalah sampah Indonesia,” ujarnya.

Asrul mengatakan salah satu persoalan sampah di Indonesia yang paling mengemukakan saat ini terkait peraturan pelarangan pada produk-produk tertentu di sejumlah daerah. Menurut dia seharusnya tidak ada kebijakan seperti itu jika pengelolaan sampah berjalan sesuai regulasi.

Senada, Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah mengaku sangat bangga bisa bekerjasama dengan ITY. Dia mengharapkan kolaborasi tersebut bisa meningkatkan kualitas pengelolaan sampah dari sisi akademik dan memperkaya literatur.

“Pengelolaan sampah belum secara maksimal didukung secara ilmiah. Padahal sampah ada di mana-mana dan harus ditangani secara serius,” ujarnya.

Pembina Yaksindo, Wahyudi Sulistya yang ikut mendatangani MoU sebagai pihak mengetahui bersama Ketua Yayasan Lingkungan Hidup, Nico Ngani.

“Kerjasama ini akan memperluas jangkauan Yaksindo dalam upaya mewujudkan tata kelola sampah Indonesia sesuai regulasi. Makan luas jangkauan kita, semoga makin cepat juga terwujud solusi sampah kita,” harap Wahyudi yang merupakan owner PT Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS).

Sebelum ditutup, pembawa acara penandatanganan MoU membacakan rencana tindak lanjut dan lingkup kegiatan kerjasama tersebut. Di antaranya, kegiatan KKN tematik, solusi sampah laut dengan kerjasama lintas perguruan tinggi dan revitalisasi lahan ex-tambang berbasis sampah.

Kerjasama itu juga mengarah pada program melahirkan energi terbarukan berbasis sampah, pengembangan SDM pengelola sampah, mendorong circular economy dengan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) berbasis regulasi dan mendorong pelaksanaan UUPS melalui PKPS sebagai poros circular economy serta program potensial lainnya terkait lingkungannya. (rev)

IMG-20200619-WA0009.jpg

Yaksindo Dukung APSI Bentuk PKPS Bali

Upaya mendorong pengelolaan sampah yang sesuai regulasi dengan sistem yang berjejaring terus dilaksanakan oleh Yaksindo. Dalam waktu dekat, Yaksindo akan berkolaborasi dengan Asosiasi Pengusaha Sampah Indonesia (APSI) di Provinsi Bali.

Kolaborasi yang akan dilakukan Yaksindo dengan APSI tersebut muncul atas inisiatif bersama. Hal itu disampaikan oleh Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah.

“Insya Allah sesegera mungkin Yaksindo akan berkolaborasi dengan APSI di Provinsi Bali. Kabar baik ini datang dari Pak Asrul Hoesein yang sekarang sedang berkunjung ke Bali memenuhi undangan dari teman-teman APSI,” ujar Nara.

Nara mengungkapkan, bentuk kolaborasi antara Yaksindo dengan APSI adalah dengan bersama-sama mendorong pembentukan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) di Provinsi Bali.

Pernyataan Nara dibenarkan oleh Asrul Hoesein, Pengawas Yaksindo yang tengah berada di Bali. Menurut Asrul, APSI sudah sepakat untuk berkolaborasi dengan Yaksindo untuk bergotong royong membangun solusi pengelolaan sampah Indonesia.

Kolaborasi itu akan dimulai dari Bali. “Saya sudah bertemu dengan Ketua APSI dan bicara panjang soal pengelolaan sampah Indonesia. Harus ada kolaborasi yang benar dan proporsional,” terang Asrul.

(Foto dari kiri: Asrul Hoesein, Bupati Karangasem I Gusti Ayu Mas Sumatri dan jajaran APSI pada acara Program Karangasem Bersih Sampah, 19 Juni 2020)

Dijelaskan, Yaksindo dan APSI akan mendorong pembentukan PKPS di Bali sebagai sistem pengelolaan sampah yang berjenjang dan berjejaring. Kelak, PKPS-PKPS di Bali akan terkoneksi dengan PKPS-PKPS di provinsi lain se Indonesia.

“Ada sembilan kabupaten dan kota di Provinsi Bali, mudah-mudahan semuanya bisa mendirikan PKPS. Namun, yang paling potensial segera berdiri adalah PKPS Klungkung dan PKPS Karangasem,” terang pria berkumis itu.

Asrul mengungkapkan, selama dua hari di Bali dirinya sudah berkunjung ke Kabupaten Klungkung dan Kabupaten Karangasem. Dia meyakini bahwa persoalan sampah di dua kabupaten itu dapat diselesaikan dengan mendirikan PKPS.

“Dengan PKPS semua pihak akan punya tugas dan tanggung jawab yang proporsional. Karena PKPS ini sejak awal memang multistakholder,” tegasnya.

Pembina Yaksindo, Wahyudi Sulistya menyambut baik kolaborasi Yaksindo dengan APSI. Menurut dia, kolaborasi Yaksind dan APSI itu akan mempercepat terciptanya solusi pengelolaan sampah Indonesia yang saat ini sedang diusahakan oleh Yaksindo.

“Solusi pengelolaan sampah Indonesia memang tidak bisa dilakukan parsial, sendiri-sendiri dan tidak tersistem. Syukur lah kalau APSI akan berkolaborasi dengan kami. Progres solusi sampah kita akan semakin cepat terwujud,” ungkap Wahyudi.

Menindaklanjuti kolaborasi tersebut, Owner PT. Kemasan Ciptatama Sempurna (KCS) itu menyatakan akan menggelar pertemuan antara Yaksindo dengan APSI pada Senin, 29 Juni 2020 di Kabupaten Pasuruan – Jawa Timur.

“Sekaligus nanti bersama-sama melihat perkembangan pendirian PKPS Kabupaten Pasuruan,” ujarnya mengakhiri. (rev)

2020-06-15-18.38.25.jpg

Di DIY, Srikandi PKPS Bantul Siap Bereskan Sampah

Setelah mendorong pembentukan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) Kota Magelang, Yaksindo juga mendorong terbentuknya PKPS Kabupaten Bantul – Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY).

Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah berharap PKPS Kabupaten Bantul bisa menjadi pemicu terbentuknya PKPS di kabupaten dan kota se DIY lainnya. “Setelah Kabupaten Bantul, insya Allah PKPS Kota Yogyakarta, Kabupaten Sleman, Kabupaten Gunung Kidul dan Kabupaten Kulonprogo juga akan segera terbentuk,” ujarnya.

Menurut Nara, terbentuknya PKPS Kabupaten Bantul merupakan momentum yang tepat untuk DIY secara keseluruhan meningkatkatkan kualitas pengelolaan sampah sesuai regulasi. “Yaksindo akan terus berbicara regulasi dan membentuk PKPS untuk melaksanakan regulasi itu,” terang Nara.

PKPS Bantul akan digerakkan oleh pegiat lingkungan, pengelola sampah, akademisi dan masyarakat biasa. Semuanya telah hadir dalam rapat pendirian dan menyepakati wanita asli Bantul sebagai ketua, Marfuatun.

“Sementara ini sudah ada dua srikandi jadi pemimpin PKPS. Yaitu, PKPS Bantul dan PKPS Sijunjung – Provinsi Sumatera Barat. Perempuan-perempuan hebat ini siap atasi masalah sampah di daerahnya sesuai regulasi,” ungkap pria berkacamata itu.

Ke depan, masih banyak PKPS yang akan terbentuk yang di antaranya akan diketuai oleh wanita. “PKPS terbuka bagi siapa saja untuk jadi pengurusnya. Laki-laki atau perempuan, yang penting dalam kepengurusan PKPS tidak ada hubungan keluarga atau darah, vertikal maupun horisontal,” tegasnya.

Direktur Green Indonesia Foundation (GiF), Asrul Hoesein yang merupakan inisiator PKPS, mengungkapkan ikut berbahagia atas terbentuknya PKPS Bantul.

“Teman-teman sudah mulai menyadari betapa pentingnya lembaga pengelolaan sampah berbentuk koperasi yang berjejaring dan multistakeholder. Saya sangat apresiasi teman-teman yang sudah membentuk PKPS. Terus semangat semua ya,” tandasnya yang juga selaku pengawas di Yaksindo.

Senada, Pembina Yaksindo, Wahyudi Sulistya menyatakan dukungannya pada PKPS – PKPS yang sudah dan akan terbentuk. “Semakin banyak PKPS terbentuk di seluruh Indonesia, maka akan semakin baik pengelolaan sampah kita,” terangnya.

Wahyudi meminta agar semua PKPS yang terbentuk dan yang akan terbentuk terus berkordinasi satu dengan yang lain. Dia meyakini pola jejaring antar-PKPS lah yang bisa menjadi solusi masalah sampah Indonesia. (rev)