IMG-20200713-WA0007.jpg

Dampingi Wilayah Destinasi Wisata Kelola Sampah

Minggu lalu (27/6), Pengawas Yaksido, Asrul Hoesein menghadiri undangan PT. Bank BNI di Purwokerto. Dia diminta memberikan usulan dalam program pemberdayaan masyarakat pada wilayah destinasi wisata.

Dalam hal ini program CSR BNI dengan bergandengan PT. Geo Dipa Energy (Persero) akan fokus pada pengelolaan sampah yang lebih luas. Yaitu Integrated Farming Zero Waste atau pertanian terpadu bebas sampah.

fb img 15947085419991326287007

Dalam progresnya Yaksindo bersepakat dengan Green Indonesia Foundation (GiF). Di mana GiF lebih dulu bersepakat dengan BNI melakukan pendampingan program pemberdayaan masyarakat melalui badan usaha milik desa (BUMDes) atau lainnya untuk fokus pada pentingnya penguatan kelembagaan “sosial dan bisnis” tata kelola sampah agar sustainable. Tujuannya untuk mendukung pertanian organik berbasis home industri.

Hari ini GiF bersama Timdis Group menuju Wonosobo untuk memulai pendampingan pembangunan suprastruktur dan infrastruktur di 12 desa di Dataran Tinggi Dieng. Hari ini (14/7) GiF memberi pembekalan untuk para pelaku dan pendukung program.

Termasuk pembentukan PKPS di 2 kabupaten dalam wilayah Dataran Tinggi Dieng, yaitu Kabupaten Wonosobo dan Kabupaten Banjarnegara. Juga pembentukan pengelola sampah di masing-masing desa untuk berbaur dengan BUMDes dalam melaksanakan program pertanian terpadu bebas sampah serta pencegahan sampah pada daerah wisata Taman Bumi Dieng.

Taman Bumi Dieng Lokasi Pertama

Dataran tinggi Dieng, terletak di antara dua kabupaten yaitu kabupaten Wonosobo masuk bagian Dieng Wetan. Sedangkan bagian Dieng Kulon masuk ke daerah Kabupaten Banjarnegara.

fb img 1594708532194 2044137955

Dataran tinggi Dieng sering mendapat julukan “Negeri Di Atas Awan”. Selain julukan tersebut, Dieng juga dikatakan sebagai “Tanahnya Para Dewa”. Dulu tempat ini merupakan pusat peradaban agama Hindu abad ke-7.

Dieng merupakan dataran tinggi, dimana kepercayaan orang Hindu mengatakan jika tempat yang tinggi lebih dekat dengan Sang Hyang Widhi atau dewa itu sendiri. Sehingga, konon Dieng digunakan sebagai tempat para dewa bersemayam.

Dieng adalah salah satu tempat wisata menarik di Jawa Tengah. Berada di wilayah Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo, kurang lebih 30 km dari kota Wonosobo. Dataran tinggi Dieng terletak di barat komplek Gunung Sindoro dan Gunung Sumbing.

Menurut sejarah, dataran tinggi Dieng disebut sebagai tempat para dewa dewi tinggal. Nama Dieng sendiri diambil dari bahasa Kawi: “di” yang artinya tempat atau gunung dan “Hyang” yang artinya dewa. Sehingga Dieng berarti daerah pegunungan tempat dewa dewi bersemayam.

fb img 1594708537568 1504417596

Sedangkan sejarah lain ada yang mengatakan jika nama Dieng berasal dari bahasa Sunda “di hyang”, karena diperkirakan pada abad ke-7 Masehi daerah ini berada dalam wilayah politik kerajaan Galuh.

Selain karena keindahan tempat wisatanya, Dieng juga terkenal sebagai tempat yang kental akan spiritual karena di sini terdapat candi-candi kuno bercorak Hindu dengan arsitektur yang unik.

Berada di ketinggian 2.093 meter di atas permukaan laut (mdpl), dataran tinggi Dieng Wonosobo memiliki udara yang sejuk lengkap dengan kabut saat matahari tidak muncul di langit. Dengan kisaran suhu 15 sampai 20 derajat Celcius.

Wisata Alam Dieng

1. Telaga Warna

Merupakan Landmark wisata Dieng. Telaga ini memiliki warna yang berbeda-beda dan punya legenda tersendiri.

2. Bukit Sikunir

Tempat berburu sunrise. Bukit Sikunir terletak di Desa Sembungan yang merupakan desa tertinggi di Jawa Tengah (2.200 mdpl). Warna sinar matahari yang kekuningan seperti kunir membuat masyarakat setempat menamainya sikunir (Jawa: kunyit)

3. Sumur Jalatunda

Sumur Jalatunda berlokasi di Desa Pekasiran, Kecamatan Bantur, Kabupaten Banjarnegara, kurang lebih sekitar 12 km di sebelah barat lokasi utama wisata Dieng. Sumur Jalatunda ini dulunya adalah sebuah ceruk rekahan kawah yang kemudian digenangi oleh air dengan diameter 90 meter dan kedalaman lebih dari 200 meter. Karena air yang menggenang ini ceruk tersebut tampak seperti sumur.

Mencapai Sumur Jalatunda ini, Anda harus menyiapkan fisik untuk menaikai 257 anak tangga. Pada anak tangga terakhir, Anda akan menemukan tumpukan kerikil beralaskan karung beras.

Menurut mitos masyarakat setempat, barang siapa yang dapat melempar kerikil dari seberang sumur ke seberang yang berlawanan, maka harapannya bisa terkabul. Oleh karena itu, ketika Anda mengunjungi sumur ini, Anda akan menemukan para penjual batu kerikil.

Harga yang dipatok untuk batu kerikil tersebut sebesar 500 rupiah. Banyak wisatawan yang mencoba peruntungannya dengan melempar batu kerikil ini.

4. Kawah Dieng

Dataran tinggi Dieng Wonosobo memiliki beberapa kawah yang indah, yaitu Kawah Sikidang, Kawah Candradimuka, dan Kawah Sileri yang masih aktif. Kawah Sikidang adalah salah satu kawah yang dijadikan andalan tempat wisata di Dieng dan berlokasi di wilayah Dieng timur. Pemandangan di sekitar kawah ini sangat indah, perpaduan hamparan bukit hijau dan tanah kapur di sekitar tanah kawah.

Diberi nama Sikidang karena kolam magma di kawah ini sering berpindah-pindah seperti Kidang (bahasa Jawa untuk hewan Kijang). Gejolak magma di kawah ini juga cukup tinggi, antara setengah hingga satu meter.

Kawah Sileri merupakan salah satu kawah terbesar di dataran tinggi Dieng dengan luas sekitar 4 hektar. Anda dapat mencapai kawah ini dengan perjalanan sejauh 7 km dari kawasan wisata utama Dieng.

Kawah Sileri masih masih mengeluarkan asap putih. Diberi nama Sileri karena warna air kawah ini putih dan aromanya seperti air bekas mencuci beras (dalam bahasa Jawa disebut leri). Sedangkan Kawah Candradimuka adalah kawah yang terkenal di dalam cerita legenda pewayangan. Dalam legenda diceritakan, kawah ini adalah tempat di mana Gatotkaca dijedi (dimandikan dalam bahasa Jawa) sehingga memiliki kesaktian yang luar biasa. Letak kawah ini kurang lebih 6 km dari pusat wisata Dieng.

5. Candi Dieng

Candi adalah sebuah simbol kepariwisataan di Dieng. Candi jugalah yang membuat Dieng menjadi tempat yang sakral. Di sini terdapat banyak Candi Hindu yang tersebar di berbagai lokasi. Candi-candi yang terdapat di Dieng diberi nama sesuai dengan tokoh Mahabarata.

Ada Candi Bima, Arjuna, Gatot Kaca, Srikandi, dan lain-lain. Model bangunan candi di sini mengikuti bentuk candi di India dengan ciri khas arca dan relief yang menghiasi bangunan candi.

“Insya Allah dengan campur tangan Tuhan, GiF akan mendampingi masyarakat di seluruh area Taman Bumi Dieng ini untuk menjadikan sampah sebagai penopang pertanian organik yang ramah wisata di daerah ini,” ujar Asrul Hoesein. (rev)

20200613_151635.jpg

Yaksindo Dorong Pengelolaan Sampah di Magelang – Jawa Tengah

Yaksindo mulai bergerak di Jawa Tengah. Mendorong perbaikan kualitas pengelolaan sampah di Kabupaten Magelang dan Kota Magelang.

Berkolaborasi dengan CV. Timdis, Yaksindo datang ke Rumah Sakit Umum (RSU) Lestari Raharja di Kota Magelang – Jawa Tengah. Ketua Yaksindo, Nara Ahirullah mendorong RSU tersebut membentuk pengelola sampah unit agar maksimal dalam pengelolaan sampah domestik maupun sampah medisnya.

“Rumah sakit tidak boleh memperjualbelikan sampah. Selama ini pihak ketiga yang masuk rumah sakit canggung karena hal itu,” terang Nara.

Menurut Nara, terutama sampah yang berkaitan dengan medis, semuanya sudah ada biaya untuk pengelolaan sampahnya. Selain sudah dipungut produsen dari pembeli produk, pasien yang menggunakan produk itu juga telah dipungut biaya pengelolaan sampah melalui harga produk itu.

2020 06 14 09 168887995.

“Karena itulah menejemen rumah sakit harus memperlakukan semua sampah medis, baik B3 maupun non-B3 sebagai sampah. Tidak diperkenankan untuk memperjualbelikannya,” terangnya.

Maka, sambungnya, selama ini pihak ketiga yang membeli sampah itu sangat hati-hati dalam membuat kontrak kerjasama pengelolaan sampah yang sesungguhnya berintikan jual-beli sampah. Antara pihak ketiga dan pihak rumah sakit pasti menggunakan kata “insentif atau kompensasi” alih-alih pembelian sampah medis non-B3.

“Maka setiap RS harus membentuk pengelola sampah unit kawasan rumah sakit. Bisa berbentuk bank sampah atau lainnya,” tegasnya di depan menejemen RSU Lestari Raharja.

Dijelaskan, barang-barang yang bagi rumah sakit adalah sampah, akan berbeda statusnya bagi bank sampah atau pengelola sampah unit kawasan RS. “Bagi bank sampah, sampah rumah sakit itu adalah material daur ulang. Maka bisa dikelola bank sampah secara bisnis murni,” jelas Nara.

img 20200613 wa00322071024958

Dia juga menjelaskan teknis yang aman dan sesuai regulasi dalam pengelolaan sampah kawasan. Termasuk soal tanggung jawab produsen berbagai produk yang dipakai rumah sakit. Terutama soal tanggung jawab sisa produknya.

Berlanjut, Ketua Yaksindo dan Direktur Green Indonesia Foundation (GiF) Asrul Hoesein yang juga pengawas Yaksindo melaksanakan pengarahan pembentukan Primer Koperasi Pengelola Sampah (PKPS) Kota Magelang dan Kabupaten Magelang. (rev)

2020-05-26-21.01.48.png

Dorong Penegakan Regulasi Sampah Lewat Ebook

Dua personel Yaksindo terlibat dalam penulisan Ebook Guyub Sampah. Sebuah buku elektronik yang diinisiasi oleh Helena Juliana Kristina sebagai Ketua Tim PKM Universitas Tarumanegara untuk Ebook Guyup Sampah.

Ebook itu diterbitkan oleh Penerbit Fakultas Teknik Untar tahun 2020. Dilengkapi dengan sambutan oleh Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK), Siti Nurbaya Bakar; Rektor Untar, Prof. Agustina Purna Irawan.

Di antara 45 partisipan penulis di ebook tersebut ada Asrul Hoesein dan Nara Ahirullah yang merupakan penggerak Yaksindo. Keduanya tetap kritis dalam tulisannya. Mengungkap belum sistematisnya pengelolaan sampah Indonesia.

2020 05 26 09 1441129380.

Kendati kritis soal sistem pengelolaan sampah yang belum berjalan, Asrul dan Nara tetap optimis mendorong waste management untuk Indonesia.

Nara menulis tentang recycle dan pengelolaan sampah dengan tajuk kekinian: 5 Manfaat Wow Sampah Selain Merusak Lingkungan di bagian I halaman 61.

2020 05 26 09 2113054585.

Sedangkan Asrul menulis tentang kondisi persampahan Indonesia dengan judul: Indonesia Belum Sistematis Menangani Sampah pada bagian II halaman 129.

Dalam kata pengantar ebook, Helena Juliana Kristina berharap informasi dan pengetahuan yang dibagikan dalam buku ini mampu menyumbang sedikit “pencerahan” bagi terbentuknya kesadaran masyarakat agar mau peduli ekologi, yang berarti berbicara mengenai keadilan, perdamaian, menghargai kemajemukan dan perbedaan, dan meningkatkan solidaritas terhadap lingkungan.

Anda dapat membaca Ebook Guyub Sampah melalui link berikut: Download Ebook Guyup Sampah. (abd)